Monitoring seharusnya membantu tim IT melihat apa yang terjadi di dalam sistem. Namun, ketika aplikasi, cloud, network, database, Kubernetes, hingga digital experience masing-masing dipantau menggunakan tools berbeda, visibility yang semakin luas bisa datang dengan konsekuensi lain, yaitu biaya yang terus meningkat.
Inilah yang dikenal sebagai observability tax, biaya yang muncul ketika kebutuhan observability berkembang lebih cepat daripada kemampuan perusahaan mengelola data, tools, dan kompleksitasnya. Persoalannya bukan sekadar berapa harga sebuah platform, tetapi seberapa besar biaya yang harus ditanggung untuk mempertahankan seluruh observability stack.
<h2> Lebih Banyak Tools, Belum Tentu Lebih Banyak Insight </h2>
Di lingkungan IT modern, satu aplikasi jarang berdiri sendiri. Application performance, infrastructure, network, cloud, database, dan user experience saling terhubung. Karena itu, tim membutuhkan visibility yang menyeluruh untuk memahami bagaimana satu gangguan dapat memengaruhi layanan secara keseluruhan.
Masalah muncul ketika setiap layer memiliki observability tools sendiri. Tim harus berpindah-pindah dashboard untuk mencari informasi, menghubungkan data secara manual, dan menentukan apakah sebuah alert benar-benar penting. Semakin banyak tools yang digunakan, semakin besar pula kompleksitas operasional yang harus dikelola.
Baca Juga: Terlalu Banyak Monitoring, Tapi Insight Terbatas? Kenali Peran AI Observability
<h2> Biaya Observabilitas Bisa Lebih Besar dari yang Terlihat </h2>
Ketika membicarakan observabilitas biaya, perusahaan sering kali hanya melihat harga subscription atau lisensi platform. Padahal, observability tax juga dapat datang dari volume data, kebutuhan penyimpanan telemetry, jumlah tools, integrasi, hingga waktu yang dibutuhkan tim untuk mengelola semuanya.
Semakin banyak workload dan infrastruktur yang dipantau, semakin besar pula data yang harus diproses dan disimpan. Tanpa strategi yang tepat, perusahaan bisa mengeluarkan biaya untuk data yang tidak semuanya dibutuhkan, sekaligus menghadapi alert fatigue karena terlalu banyak informasi masuk tanpa prioritas yang jelas.
Di sisi lain, monitoring tradisional yang melihat setiap komponen secara terpisah membuat tim sulit memahami hubungan antara gangguan pada infrastructure, application performance, hingga pengalaman pengguna. Dengan demikian, full-stack observability menjadi semakin relevan untuk menghubungkan visibility dari end-user experience hingga back-end infrastructure dalam satu konteks.
<h2> Apa yang Sebenarnya Membuat Observability Makin Mahal? </h2>
Ketika environment IT semakin kompleks, biaya observability tidak hanya datang dari platform yang digunakan. Ada beberapa faktor lain yang sering luput diperhitungkan, tetapi perlahan dapat membuat observability tax semakin besar.
<h3> 1. Data Bertambah, Tagihan Ikut Bergerak </h3>
Semakin banyak sistem yang dipantau, semakin besar pula volume telemetry yang dihasilkan. Log, metrics, traces, event, dan performa data dapat terus bertambah sehingga kebutuhan processing dan storage ikut meningkat.
Tantangannya adalah menentukan data mana yang benar-benar bernilai. Perusahaan membutuhkan visibility yang luas tanpa harus membayar mahal untuk seluruh data yang masuk secara tidak terkontrol.
<h3> 2. Satu Masalah, Lima Dashboard </h3>
Menggunakan banyak tools mungkin terlihat seperti cara untuk mendapatkan monitoring yang lebih lengkap. Namun, setiap tools berarti ada dashboard, konfigurasi, integrasi, dan workflow yang perlu dikelola.
Pada akhirnya, tim bukan hanya menghadapi tool sprawl. Waktu penyelesaian insiden menjadi lebih panjang karena informasi tersebar. Unified observability dapat mengurangi kebutuhan berpindah antar-tools dan dashboard dengan memusatkan visibility dalam satu platform.
<h3> 3. Ketika Pilihan Tools Justru Membatasi Gerak </h3>
Ketergantungan pada platform tertentu juga dapat membuat perusahaan semakin sulit mengubah strategi ketika environment berkembang. Risiko ini semakin relevan bagi organisasi yang menjalankan kombinasi on-premises, private cloud, public cloud, Kubernetes, dan container. Enterprise observability platform perlu memiliki fleksibilitas untuk mengikuti arsitektur IT yang terus berubah, bukan justru membuat perusahaan semakin terikat pada satu ekosistem.
Baca Juga: Token AI: Biaya Tersembunyi di Balik AI Enterprise
<h2> AI Mengubah Cara Tim Membaca Sinyal dari Sistem </h2>
AI mengubah cara tim memahami data observability. Alert correlation, deteksi anomali, identifikasi bottleneck, dan analisis root cause dapat membantu menyaring informasi yang masuk sehingga tim bisa lebih cepat menentukan insiden yang perlu diprioritaskan. Pendekatan ini juga mendukung peralihan dari reactive monitoring menuju proactive IT operations melalui insight yang lebih prediktif.
Perkembangan workload berbasis AI turut membuat environment IT semakin kompleks dan dinamis. Application, infrastructure, network, dan cloud saling bergantung, sehingga tim membutuhkan visibility yang dapat menghubungkan berbagai komponen tersebut dalam satu konteks.
Di sinilah AI-powered observability berperan untuk membantu tim mengenali pola, mendeteksi anomali, dan memahami dampak operasional dengan lebih cepat.
<h2> Temukan Enterprise Observability Platform yang Lebih Terintegrasi Bersama Bonree </h2>
Biaya observability meningkat ketika data tersebar, dashboard bertambah, dan investigasi insiden memakan waktu. Bonree menyatukan application, infrastructure, cloud, network, dan digital experience monitoring dalam satu platform, sehingga tim IT dapat memantau kondisi sistem tanpa harus berpindah-pindah tools.
Dengan AI-powered alert correlation dan anomaly detection, tim IT dapat lebih cepat menemukan sumber gangguan, memprioritaskan insiden kritis, dan mengurangi waktu troubleshooting. Hasilnya, beban kerja manual berkurang, respons terhadap insiden lebih cepat, dan tim dapat fokus menjaga stabilitas layanan alih-alih mengelola banyak tools. Pendekatan ini membantu menekan observability tax sekaligus meningkatkan efisiensi operasional.
<h2> Bangun Strategi Observability yang Lebih Efisien Bersama Jedi Solutions </h2>
Membangun strategi observability yang tepat membutuhkan pemahaman terhadap kebutuhan infrastruktur, arsitektur IT, dan kompleksitas environment yang digunakan. Solusi observability perlu dipilih dengan mempertimbangkan bagaimana berbagai layer IT dapat dipantau secara terintegrasi, efisien, dan fleksibel.
Jedi Solutions (bagian dari CTI Group) membantu perusahaan memahami kebutuhan observability dan menghubungkannya dengan solusi Bonree yang sesuai.
Ingin tahu bagaimana unified observability dapat membantu mengurangi kompleksitas monitoring dan mengendalikan observability tax di perusahaan Anda? Konsultasikan kebutuhan observability Anda bersama Jedi Solutions.
Penulis: Angela Merici Retna Perwitasari
Content Writer Intern CTI Group



